kata buku

karena buku dan kata-kata, adalah jendela segala rasa

“..saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini..”

—   Dee, Firasat

“Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.”

—   Dee, Curhat Buat Sahabat

“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu kemana ini semua berakhir. Bagiku, itulah keajaiban yang kucari, yang dihidangkan semesta bagiku, dan kulahap habis…”

—   "Have You Ever?", oleh Dee

“Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku. Untuk proses yang tak selalu mudah, tapi selalu indah.”

—   Madre, oleh Dee

“Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.”

—   Madre, oleh Dee

“Hidup tak pernah berakhir mati. Hidup hanya berganti wujud. Dan sepanjang perjalanan bernama hidup, kau dan aku, kita semua, hanya berjalan menembusi satu tabir itu saja. Membolak-balik koin yang sama.”

—   Madre, oleh Dee

“Keterpisahan adalah ilusi. Dunia jasad dan dunia roh, dunia materi dan dunia energi; hanyalah dua sisi dari koin yang sama.”

—   Madre, oleh Dee

“Saya rindu pantai. Tapi pantai tidak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan.”

—   Tansen dalam Madre, oleh Dee

“Kalau dirawat dengan benar, banyak hal di dunia ini yang makin tua makin berharga. Makin hidup dan malah makin enak.”

—   Pak Hadi dalam Madre, oleh Dee

"Apa yang salah dari menjadi berbeda?"

Itu salah satu quote yang suka dari Zarah, tokok utama dalam novel ke-4 Supernova Dee Lestari berjudul PARTIKEL. Saya sendiri perlu waktu untuk mengingat-ingat seperti apa alur cerita pada 3 novelnya terdahulu. Jarak 8 tahun yang terlampau jauh membuat saya merasa harus mencari tahu lagi cerita-cerita sebelumnya karena ini buku ke-4, pasti ada kaitannya dengan buku-buku sebelumnya. Dan di akhir cerita, saya benar. Kembali dimunculkan sosok Bodhi dan Elektra disini.
Saya merupakan penggemar seluruh karya Dee. Tapi PARTIKEL betul-betul membuat saya menahan napas dan berdecak kagum. Sangat. Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tatkala membaca buku Dee. PARTIKEL sendiri membuka wawasan saya tentang fungi, medan elektromagnetik, DNA, orangutan, dan berbagai macam frekuensi juga pengetahuan tentang cakra.
Zarah Amala, tokoh utama dalam PARTIKEL digambarkan mempunyai karakter sebagai orang yang keras, teguh pendirian, dan pantang menyerah. Ia juga digambarkan sangat kritis dan selalu mencari tahu. Tapi untuk orang yang betul-betul ia sayang, ia rela mengalah, sebuah paradoks. Dari kecil Zarah tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti layaknya anak seusianya. Pendidikan itu ia dapatkan dari ‘sekolah alam’ bersama ayahnya. Sejak umur 8 tahun, ia sudah menghapal di luar kepala nama-nama anatomi dalam tubuh manusia, berbagai jenis tanaman biologis, menghitung, dan lain-lain. Pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya adalah agama dan PMP. Ia percaya Tuhan. Namun baginya alam lebih menarik dan lebih menunjukkan eksistensi. Ia percaya bahwa alam itu ‘HIDUP’ dan ‘berbicara’ kepadanya.
Dibesarkan oleh seorang ayah yang bernama Firas dan ibu yang bernama Aisyah, Zarah kecil sudah menjadi seorang yang sangat kritis, yang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Diajar oleh ayahnya yang juga merupakan ilmuwan yang punya ketertarikan mendalam mengenai kerajaan fungi, sangat membuat Zarah sangat mengidolakan ayahnya. Sampai suatu waktu ayahnya seperti ‘menghilang’, disinilah Zarah bertekad untuk mencari ayahnya walau harus menembus dimensi ruang dan waktu sekalipun.
Kalau diceritakan seperti ini, mungkin terlihat seperti novel petualangan biasa. Namun, PARTIKEL mampu menghipnotis pembacanya. Gak sabar sampai halaman terakhir dan ada sedikit perasaan kecewa kenapa halaman terakhir itu tidak diperpanjang. Aaaaa saya gak sabar untuk buku ke 5!
Dee menggambarkan segala sesuatunya seprti missing link, bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah kebetulan. We are meant to be someone and that for we have to go through all of them. It’s not coincidence, it is what we called – faith. 
Emosi saya dibuat naik turun membaca buku ini. Tertawa, kesal, sedih, deg-degan, haru, kagum, gemas, sampai patah hati. Semua ada.
Partikel seperti pengukuhan terhadap beberapa teori dan prinsip yang sampai saat ini masih saya pegang teguh. Bahwa manusia hidup dari alam dan nenek moyang kita jaman dulu sudah cukup pintar untuk berbuat ‘baik’ pada alam. Bahwa satu-satunya jalan agar dapat hidup harmonis bersama alam adalah tidak mengusiknya. Keserakahan menjadi batu sandungan yang luar biasa besar bagi setiap manusia. Dan manusia sebagai perusak, well siapa yang gak tahu itu? Bahwa perlu juga bagi kita untuk menyamakan ‘frekuensi’ terhadap sesuatu yang kita senangi. Karena itulah ada yang dinamakan ‘telepati’. Bagaimana telepati itu bekerja, saya rasa hanya Firas yang tahu jawabannya. Partikel mengajari saya untuk ‘melihat’ Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, membuat saya lebih mencintai Tuhan. Bahwa setiap yang Ia ciptakan pasti ada gunanya untuk manusia, itu benar. Partikel juga mengajarkan saya untuk terus bertanya, terus kritis.. Mengapa begini, mengapa begitu. Apa salahnya bila bertanya. Dari pertanyaan satu loncat ke pertanyaan yang lain. Membuat lebih bijak melihat hidup.
"Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu."
Sabar dan terus mencari jawaban, itu yang dibutuhkan sekarang. Namun untuk mendapatkan jawaban tersebut, ikhtiar juga perlu dilakukan.
Gak sabar menunggu buku ke-5.
Terima kasih PARTIKEL. Terima kasih Dee.

"Apa yang salah dari menjadi berbeda?"

Itu salah satu quote yang suka dari Zarah, tokok utama dalam novel ke-4 Supernova Dee Lestari berjudul PARTIKEL. Saya sendiri perlu waktu untuk mengingat-ingat seperti apa alur cerita pada 3 novelnya terdahulu. Jarak 8 tahun yang terlampau jauh membuat saya merasa harus mencari tahu lagi cerita-cerita sebelumnya karena ini buku ke-4, pasti ada kaitannya dengan buku-buku sebelumnya. Dan di akhir cerita, saya benar. Kembali dimunculkan sosok Bodhi dan Elektra disini.

Saya merupakan penggemar seluruh karya Dee. Tapi PARTIKEL betul-betul membuat saya menahan napas dan berdecak kagum. Sangat. Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tatkala membaca buku Dee. PARTIKEL sendiri membuka wawasan saya tentang fungi, medan elektromagnetik, DNA, orangutan, dan berbagai macam frekuensi juga pengetahuan tentang cakra.

Zarah Amala, tokoh utama dalam PARTIKEL digambarkan mempunyai karakter sebagai orang yang keras, teguh pendirian, dan pantang menyerah. Ia juga digambarkan sangat kritis dan selalu mencari tahu. Tapi untuk orang yang betul-betul ia sayang, ia rela mengalah, sebuah paradoks. Dari kecil Zarah tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti layaknya anak seusianya. Pendidikan itu ia dapatkan dari ‘sekolah alam’ bersama ayahnya. Sejak umur 8 tahun, ia sudah menghapal di luar kepala nama-nama anatomi dalam tubuh manusia, berbagai jenis tanaman biologis, menghitung, dan lain-lain. Pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya adalah agama dan PMP. Ia percaya Tuhan. Namun baginya alam lebih menarik dan lebih menunjukkan eksistensi. Ia percaya bahwa alam itu ‘HIDUP’ dan ‘berbicara’ kepadanya.

Dibesarkan oleh seorang ayah yang bernama Firas dan ibu yang bernama Aisyah, Zarah kecil sudah menjadi seorang yang sangat kritis, yang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Diajar oleh ayahnya yang juga merupakan ilmuwan yang punya ketertarikan mendalam mengenai kerajaan fungi, sangat membuat Zarah sangat mengidolakan ayahnya. Sampai suatu waktu ayahnya seperti ‘menghilang’, disinilah Zarah bertekad untuk mencari ayahnya walau harus menembus dimensi ruang dan waktu sekalipun.

Kalau diceritakan seperti ini, mungkin terlihat seperti novel petualangan biasa. Namun, PARTIKEL mampu menghipnotis pembacanya. Gak sabar sampai halaman terakhir dan ada sedikit perasaan kecewa kenapa halaman terakhir itu tidak diperpanjang. Aaaaa saya gak sabar untuk buku ke 5!

Dee menggambarkan segala sesuatunya seprti missing link, bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah kebetulan. We are meant to be someone and that for we have to go through all of them. It’s not coincidence, it is what we called – faith. 

Emosi saya dibuat naik turun membaca buku ini. Tertawa, kesal, sedih, deg-degan, haru, kagum, gemas, sampai patah hati. Semua ada.

Partikel seperti pengukuhan terhadap beberapa teori dan prinsip yang sampai saat ini masih saya pegang teguh. Bahwa manusia hidup dari alam dan nenek moyang kita jaman dulu sudah cukup pintar untuk berbuat ‘baik’ pada alam. Bahwa satu-satunya jalan agar dapat hidup harmonis bersama alam adalah tidak mengusiknya. Keserakahan menjadi batu sandungan yang luar biasa besar bagi setiap manusia. Dan manusia sebagai perusak, well siapa yang gak tahu itu? Bahwa perlu juga bagi kita untuk menyamakan ‘frekuensi’ terhadap sesuatu yang kita senangi. Karena itulah ada yang dinamakan ‘telepati’. Bagaimana telepati itu bekerja, saya rasa hanya Firas yang tahu jawabannya. Partikel mengajari saya untuk ‘melihat’ Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, membuat saya lebih mencintai Tuhan. Bahwa setiap yang Ia ciptakan pasti ada gunanya untuk manusia, itu benar. Partikel juga mengajarkan saya untuk terus bertanya, terus kritis.. Mengapa begini, mengapa begitu. Apa salahnya bila bertanya. Dari pertanyaan satu loncat ke pertanyaan yang lain. Membuat lebih bijak melihat hidup.

"Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu."

Sabar dan terus mencari jawaban, itu yang dibutuhkan sekarang. Namun untuk mendapatkan jawaban tersebut, ikhtiar juga perlu dilakukan.

Gak sabar menunggu buku ke-5.

Terima kasih PARTIKEL. Terima kasih Dee.