“Apa yang salah dari menjadi berbeda?”

Itu salah satu quote yang suka dari Zarah, tokok utama dalam novel ke-4 Supernova Dee Lestari berjudul PARTIKEL. Saya sendiri perlu waktu untuk mengingat-ingat seperti apa alur cerita pada 3 novelnya terdahulu. Jarak 8 tahun yang terlampau jauh membuat saya merasa harus mencari tahu lagi cerita-cerita sebelumnya karena ini buku ke-4, pasti ada kaitannya dengan buku-buku sebelumnya. Dan di akhir cerita, saya benar. Kembali dimunculkan sosok Bodhi dan Elektra disini.
Saya merupakan penggemar seluruh karya Dee. Tapi PARTIKEL betul-betul membuat saya menahan napas dan berdecak kagum. Sangat. Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tatkala membaca buku Dee. PARTIKEL sendiri membuka wawasan saya tentang fungi, medan elektromagnetik, DNA, orangutan, dan berbagai macam frekuensi juga pengetahuan tentang cakra.
Zarah Amala, tokoh utama dalam PARTIKEL digambarkan mempunyai karakter sebagai orang yang keras, teguh pendirian, dan pantang menyerah. Ia juga digambarkan sangat kritis dan selalu mencari tahu. Tapi untuk orang yang betul-betul ia sayang, ia rela mengalah, sebuah paradoks. Dari kecil Zarah tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti layaknya anak seusianya. Pendidikan itu ia dapatkan dari ‘sekolah alam’ bersama ayahnya. Sejak umur 8 tahun, ia sudah menghapal di luar kepala nama-nama anatomi dalam tubuh manusia, berbagai jenis tanaman biologis, menghitung, dan lain-lain. Pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya adalah agama dan PMP. Ia percaya Tuhan. Namun baginya alam lebih menarik dan lebih menunjukkan eksistensi. Ia percaya bahwa alam itu ‘HIDUP’ dan ‘berbicara’ kepadanya.
Dibesarkan oleh seorang ayah yang bernama Firas dan ibu yang bernama Aisyah, Zarah kecil sudah menjadi seorang yang sangat kritis, yang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Diajar oleh ayahnya yang juga merupakan ilmuwan yang punya ketertarikan mendalam mengenai kerajaan fungi, sangat membuat Zarah sangat mengidolakan ayahnya. Sampai suatu waktu ayahnya seperti ‘menghilang’, disinilah Zarah bertekad untuk mencari ayahnya walau harus menembus dimensi ruang dan waktu sekalipun.
Kalau diceritakan seperti ini, mungkin terlihat seperti novel petualangan biasa. Namun, PARTIKEL mampu menghipnotis pembacanya. Gak sabar sampai halaman terakhir dan ada sedikit perasaan kecewa kenapa halaman terakhir itu tidak diperpanjang. Aaaaa saya gak sabar untuk buku ke 5!
Dee menggambarkan segala sesuatunya seprti missing link, bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah kebetulan. We are meant to be someone and that for we have to go through all of them. It’s not coincidence, it is what we called – faith. 
Emosi saya dibuat naik turun membaca buku ini. Tertawa, kesal, sedih, deg-degan, haru, kagum, gemas, sampai patah hati. Semua ada.
Partikel seperti pengukuhan terhadap beberapa teori dan prinsip yang sampai saat ini masih saya pegang teguh. Bahwa manusia hidup dari alam dan nenek moyang kita jaman dulu sudah cukup pintar untuk berbuat ‘baik’ pada alam. Bahwa satu-satunya jalan agar dapat hidup harmonis bersama alam adalah tidak mengusiknya. Keserakahan menjadi batu sandungan yang luar biasa besar bagi setiap manusia. Dan manusia sebagai perusak, well siapa yang gak tahu itu? Bahwa perlu juga bagi kita untuk menyamakan ‘frekuensi’ terhadap sesuatu yang kita senangi. Karena itulah ada yang dinamakan ‘telepati’. Bagaimana telepati itu bekerja, saya rasa hanya Firas yang tahu jawabannya. Partikel mengajari saya untuk ‘melihat’ Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, membuat saya lebih mencintai Tuhan. Bahwa setiap yang Ia ciptakan pasti ada gunanya untuk manusia, itu benar. Partikel juga mengajarkan saya untuk terus bertanya, terus kritis.. Mengapa begini, mengapa begitu. Apa salahnya bila bertanya. Dari pertanyaan satu loncat ke pertanyaan yang lain. Membuat lebih bijak melihat hidup.

“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.”

Sabar dan terus mencari jawaban, itu yang dibutuhkan sekarang. Namun untuk mendapatkan jawaban tersebut, ikhtiar juga perlu dilakukan.
Gak sabar menunggu buku ke-5.
Terima kasih PARTIKEL. Terima kasih Dee.
 @amyasti

“Apa yang salah dari menjadi berbeda?”

Itu salah satu quote yang suka dari Zarah, tokok utama dalam novel ke-4 Supernova Dee Lestari berjudul PARTIKEL. Saya sendiri perlu waktu untuk mengingat-ingat seperti apa alur cerita pada 3 novelnya terdahulu. Jarak 8 tahun yang terlampau jauh membuat saya merasa harus mencari tahu lagi cerita-cerita sebelumnya karena ini buku ke-4, pasti ada kaitannya dengan buku-buku sebelumnya. Dan di akhir cerita, saya benar. Kembali dimunculkan sosok Bodhi dan Elektra disini.

Saya merupakan penggemar seluruh karya Dee. Tapi PARTIKEL betul-betul membuat saya menahan napas dan berdecak kagum. Sangat. Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tatkala membaca buku Dee. PARTIKEL sendiri membuka wawasan saya tentang fungi, medan elektromagnetik, DNA, orangutan, dan berbagai macam frekuensi juga pengetahuan tentang cakra.

Zarah Amala, tokoh utama dalam PARTIKEL digambarkan mempunyai karakter sebagai orang yang keras, teguh pendirian, dan pantang menyerah. Ia juga digambarkan sangat kritis dan selalu mencari tahu. Tapi untuk orang yang betul-betul ia sayang, ia rela mengalah, sebuah paradoks. Dari kecil Zarah tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti layaknya anak seusianya. Pendidikan itu ia dapatkan dari ‘sekolah alam’ bersama ayahnya. Sejak umur 8 tahun, ia sudah menghapal di luar kepala nama-nama anatomi dalam tubuh manusia, berbagai jenis tanaman biologis, menghitung, dan lain-lain. Pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya adalah agama dan PMP. Ia percaya Tuhan. Namun baginya alam lebih menarik dan lebih menunjukkan eksistensi. Ia percaya bahwa alam itu ‘HIDUP’ dan ‘berbicara’ kepadanya.

Dibesarkan oleh seorang ayah yang bernama Firas dan ibu yang bernama Aisyah, Zarah kecil sudah menjadi seorang yang sangat kritis, yang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Diajar oleh ayahnya yang juga merupakan ilmuwan yang punya ketertarikan mendalam mengenai kerajaan fungi, sangat membuat Zarah sangat mengidolakan ayahnya. Sampai suatu waktu ayahnya seperti ‘menghilang’, disinilah Zarah bertekad untuk mencari ayahnya walau harus menembus dimensi ruang dan waktu sekalipun.

Kalau diceritakan seperti ini, mungkin terlihat seperti novel petualangan biasa. Namun, PARTIKEL mampu menghipnotis pembacanya. Gak sabar sampai halaman terakhir dan ada sedikit perasaan kecewa kenapa halaman terakhir itu tidak diperpanjang. Aaaaa saya gak sabar untuk buku ke 5!

Dee menggambarkan segala sesuatunya seprti missing link, bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah kebetulan. We are meant to be someone and that for we have to go through all of them. It’s not coincidence, it is what we called – faith. 

Emosi saya dibuat naik turun membaca buku ini. Tertawa, kesal, sedih, deg-degan, haru, kagum, gemas, sampai patah hati. Semua ada.

Partikel seperti pengukuhan terhadap beberapa teori dan prinsip yang sampai saat ini masih saya pegang teguh. Bahwa manusia hidup dari alam dan nenek moyang kita jaman dulu sudah cukup pintar untuk berbuat ‘baik’ pada alam. Bahwa satu-satunya jalan agar dapat hidup harmonis bersama alam adalah tidak mengusiknya. Keserakahan menjadi batu sandungan yang luar biasa besar bagi setiap manusia. Dan manusia sebagai perusak, well siapa yang gak tahu itu? Bahwa perlu juga bagi kita untuk menyamakan ‘frekuensi’ terhadap sesuatu yang kita senangi. Karena itulah ada yang dinamakan ‘telepati’. Bagaimana telepati itu bekerja, saya rasa hanya Firas yang tahu jawabannya. Partikel mengajari saya untuk ‘melihat’ Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, membuat saya lebih mencintai Tuhan. Bahwa setiap yang Ia ciptakan pasti ada gunanya untuk manusia, itu benar. Partikel juga mengajarkan saya untuk terus bertanya, terus kritis.. Mengapa begini, mengapa begitu. Apa salahnya bila bertanya. Dari pertanyaan satu loncat ke pertanyaan yang lain. Membuat lebih bijak melihat hidup.

“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.”

Sabar dan terus mencari jawaban, itu yang dibutuhkan sekarang. Namun untuk mendapatkan jawaban tersebut, ikhtiar juga perlu dilakukan.

Gak sabar menunggu buku ke-5.

Terima kasih PARTIKEL. Terima kasih Dee.

 @amyasti

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.

Pak Simon kepada Zarah dalam PARTIKEL.

Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.

Ayah kepada Zarah dalam PARTIKEL.

Manusia lahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta.

DEE dalam PARTIKEL
Judul buku-buku Laura Ingalls Wilder:
Rumah Kecil di Rimba Besar
Rumah Kecil di Padang Rumput
Anak Tani
Di Tepi Sungai Plum
Di Pantai Danau Perak
Musim Dingin yang Panjang
Kota Kecil di Padang Rumput
Empat Tahun Pertama
Dalam Perjalanan Pulang
Surat dari Jauh

Judul buku-buku Laura Ingalls Wilder:

  1. Rumah Kecil di Rimba Besar
  2. Rumah Kecil di Padang Rumput
  3. Anak Tani
  4. Di Tepi Sungai Plum
  5. Di Pantai Danau Perak
  6. Musim Dingin yang Panjang
  7. Kota Kecil di Padang Rumput
  8. Empat Tahun Pertama
  9. Dalam Perjalanan Pulang
  10. Surat dari Jauh
Buku seri “little house” ini sudah ada sejak tahun 1870an. Dan seingat saya sudah sempat difilmkan pula. Tontonan wajib ibu saya waktu masih kecil.
Saya sangat suka dengan bagaimana Laura Ingalls mendeskripsikan keadaan disana pada jamannya dengan begitu indah. Seri Little House ini ada 10 seri. Banyak berisi pesan-pesan kehidupan dan pengalaman yang membuat pembaca pasti iri dengan kehidupan Laura dulu. Disisipi beberapa sajak-sajak yang sangat indah dan penuh makna. Juga dua hal yang tidak pernah Laura lupa: selalu bersyukur dan berusaha untuk menjadi anak yang baik. 
Buku “Kota Kecil di Padang Rumput” ini merupakan buku ke 7 dari 10 buku serinya. Bacaan yang sungguh bagus untuk dibacakan sebagai bed time stories anak-anak. Penuh penggambaran yang membuat imajinasi hidup dan liar.
Harus mulai mengumpulkan buku-buku serinya lagi.
Oiya, untuk sementara, buku-bukunya bisa didapat disini.

Buku seri “little house” ini sudah ada sejak tahun 1870an. Dan seingat saya sudah sempat difilmkan pula. Tontonan wajib ibu saya waktu masih kecil.

Saya sangat suka dengan bagaimana Laura Ingalls mendeskripsikan keadaan disana pada jamannya dengan begitu indah. Seri Little House ini ada 10 seri. Banyak berisi pesan-pesan kehidupan dan pengalaman yang membuat pembaca pasti iri dengan kehidupan Laura dulu. Disisipi beberapa sajak-sajak yang sangat indah dan penuh makna. Juga dua hal yang tidak pernah Laura lupa: selalu bersyukur dan berusaha untuk menjadi anak yang baik. 

Buku “Kota Kecil di Padang Rumput” ini merupakan buku ke 7 dari 10 buku serinya. Bacaan yang sungguh bagus untuk dibacakan sebagai bed time stories anak-anak. Penuh penggambaran yang membuat imajinasi hidup dan liar.

Harus mulai mengumpulkan buku-buku serinya lagi.

Oiya, untuk sementara, buku-bukunya bisa didapat disini.

Bila kebijaksanaan yang kau cari,
Lima hal kau harus hati-hati,
Kepada siapa kau bicara,
Tentang siapa kau bicara,
Dan bagaimana, bilamana, serta dimana.

Sajak dari E.L.Ingalls untuk anak perempuannya Laura Ingalls - Little Town on the Prairie
Bab Identitas Pola, dalam buku “Estetika Paradoks” oleh Jacob Sumardjo.

Bab Identitas Pola, dalam buku “Estetika Paradoks” oleh Jacob Sumardjo.


Kumpulan cerita pendek memikat yang menyuarakan cinta dalam banyak sisi, galau, bahagia, pencerahan, pengkhianatan, dan kerinduan…

Itu tulisan yang ada pada buku Cerita Sahabat karya Alberthiene Endah & Friends. Dari genrenya sih buku ini termasuk dalam kategori Fiksi dan Sastra, mungkin karena isinya kumpulan cerpen kali ya..
Saya tertarik untuk beli karena katanya cerita-ceritanya menarik dan lain dari cerita cerpen kebanyakan. Juga mbak Alberthiene Endah merupakan penulis favorit saya. Setelah baca, hmmm… Komentar saya adalah, “jujur”. Isi buku ini menceritakan kejujuran. Baik dalam bentuk ceritanya dan gaya penulisannya. Kelihatan banget yang sering nulis dan pernah nerbitin buku dengan yang belum.
Isi ceritanya kebanyakan tentang transgender, walaupun gak melulu tentang homoseksual dan lesbian.
Walaupun demikian, menarik untuk dibaca. Terutama buat kamu-kamu yang ingin tahu pendapat tentang ‘mereka’ dari sudut pandang yang lain. Penulis favorit saya masih tetap mbak Alberthiene Endah di buku ini, tapi Faye Yolody, Jia Effendi, dan Ollie Salsabeela juga tulisannya menyentuh. Ringan, tapi berkesan.
Selamat membaca, selamat berlibur dan bersantai dengan orang-orang tersayang.
Cheers,@amyasti

Kumpulan cerita pendek memikat yang menyuarakan cinta dalam banyak sisi, galau, bahagia, pencerahan, pengkhianatan, dan kerinduan…

Itu tulisan yang ada pada buku Cerita Sahabat karya Alberthiene Endah & Friends. Dari genrenya sih buku ini termasuk dalam kategori Fiksi dan Sastra, mungkin karena isinya kumpulan cerpen kali ya..

Saya tertarik untuk beli karena katanya cerita-ceritanya menarik dan lain dari cerita cerpen kebanyakan. Juga mbak Alberthiene Endah merupakan penulis favorit saya. Setelah baca, hmmm… Komentar saya adalah, “jujur”. Isi buku ini menceritakan kejujuran. Baik dalam bentuk ceritanya dan gaya penulisannya. Kelihatan banget yang sering nulis dan pernah nerbitin buku dengan yang belum.

Isi ceritanya kebanyakan tentang transgender, walaupun gak melulu tentang homoseksual dan lesbian.

Walaupun demikian, menarik untuk dibaca. Terutama buat kamu-kamu yang ingin tahu pendapat tentang ‘mereka’ dari sudut pandang yang lain. Penulis favorit saya masih tetap mbak Alberthiene Endah di buku ini, tapi Faye Yolody, Jia Effendi, dan Ollie Salsabeela juga tulisannya menyentuh. Ringan, tapi berkesan.

Selamat membaca,
selamat berlibur dan bersantai dengan orang-orang tersayang.

Cheers,
@amyasti